BeritaNasional

Trump Sebut Iran Terbelah Dua Kubu di Tengah Negosiasi Perdamaian

106
Sumber foto : Detik.com
Sumber foto : Detik.com

Bungabunga.co.id – Pemerintah Amerika Serikat masih menanti jawaban resmi dari Iran terkait proposal perdamaian yang diajukan untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Di tengah situasi tersebut, Presiden Donald Trump mengungkapkan pandangannya bahwa kondisi politik Iran saat ini sedang terpecah.

Melalui pernyataan di media sosial, Trump menggambarkan adanya kebingungan dalam kepemimpinan Iran akibat perbedaan pandangan antar kelompok di dalam negeri.

Dua Faksi Internal Iran Jadi Sorotan

Kelompok Garis Keras vs Moderat

Trump menyebut terdapat dua kubu utama di Iran, yakni kelompok garis keras dan kelompok moderat. Ia menilai kubu garis keras mengalami tekanan setelah konflik, sementara kelompok yang disebut moderat dinilai tidak sepenuhnya berbeda, meskipun mendapat perhatian lebih dalam dinamika politik.

Menurut laporan CNN, pemerintah AS melihat adanya perbedaan sikap antara tim negosiasi resmi Iran dengan unsur militer yang memiliki pengaruh kuat di negara tersebut.

Perbedaan Pandangan di Internal Pemerintahan Iran

Tim Negosiasi vs Garda Revolusi

Sumber intelijen AS menduga adanya ketidaksepahaman antara tim perunding Iran—yang melibatkan Mohammad Bagher Ghalibaf dan Abbas Araghchi—dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran.

Hal ini dianggap menjadi salah satu faktor yang memperlambat proses pengambilan keputusan terkait kesepakatan damai.

Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa pihaknya memiliki pemahaman yang cukup jelas mengenai aktor-aktor kunci dalam pengambilan keputusan di Iran, meskipun situasinya dinilai kompleks.

Klaim AS Soal Kendali Selat Hormuz

Pernyataan Kontroversial Trump

Dalam pernyataan terpisah, Trump juga mengklaim bahwa AS memiliki kontrol penuh atas Selat Hormuz. Ia menyebut jalur pelayaran penting tersebut berada di bawah pengawasan ketat Angkatan Laut AS.

Trump bahkan menegaskan bahwa tidak ada kapal yang dapat melintas tanpa persetujuan pihak AS hingga Iran menyepakati perjanjian yang ditawarkan.

Pernyataan ini menambah ketegangan geopolitik, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global dan sering menjadi titik sensitif dalam konflik kawasan.

Exit mobile version