Bungabunga.co.id – Gedung Putih menyatakan bahwa pemerintah Iran disebut telah membatalkan ratusan rencana eksekusi mati terhadap para demonstran di tengah tekanan internasional yang meningkat. Pernyataan ini muncul di saat situasi politik dan keamanan Iran masih memanas akibat gelombang protes besar-besaran yang terjadi sejak akhir tahun lalu.
Menurut pemerintah Amerika Serikat, keputusan Iran tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan peringatan keras kepada Teheran terkait penanganan demonstrasi dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Gedung Putih: Tekanan AS Berdampak Langsung
Juru bicara Gedung Putih menyampaikan bahwa otoritas Iran disebut menghentikan sekitar 800 eksekusi mati yang sebelumnya dikabarkan akan dilakukan terhadap para pengunjuk rasa. Langkah ini diklaim sebagai hasil dari tekanan diplomatik dan politik yang dilayangkan Washington.
Trump Tetap Buka Opsi Tindakan Lanjutan
Meski rencana eksekusi disebut dibatalkan, Gedung Putih menegaskan bahwa semua opsi tetap berada di atas meja. Presiden Trump dikabarkan masih mempertimbangkan berbagai langkah lanjutan, termasuk opsi militer, apabila kekerasan terhadap demonstran kembali terjadi.
Trump sebelumnya menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan tinggal diam jika Iran terus melakukan tindakan represif terhadap warganya sendiri.
Iran Bantah Isu Eksekusi Mati Demonstran
Di sisi lain, pemerintah Iran membantah keras klaim adanya rencana hukuman mati massal terhadap para pengunjuk rasa. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa tidak ada agenda eksekusi, baik saat ini maupun dalam waktu dekat.
Pemerintah Iran Klaim Situasi Sudah Terkendali
Araghchi juga mengklaim bahwa kondisi dalam negeri Iran sudah kembali stabil dan berada dalam kendali penuh pemerintah. Ia menyebut kerusuhan yang terjadi sebagai bagian dari operasi terorisme yang didalangi pihak asing.
Tuduhan Campur Tangan Asing Kembali Mencuat
Pejabat Iran kembali menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik gelombang protes yang mereka sebut sebagai upaya destabilisasi. Tuduhan tersebut semakin memperuncing hubungan antara Teheran dan Washington.
Sementara itu, komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi di Iran, khususnya terkait isu hak asasi manusia dan keselamatan para demonstran.









