Bungabunga.co.id – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu polemik di panggung internasional. Kali ini, komentar Trump mengenai peran pasukan NATO di Afghanistan menimbulkan kemarahan serius dari pemerintah Inggris. Ucapan tersebut dinilai tidak hanya keliru, tetapi juga melukai perasaan keluarga tentara yang gugur dalam konflik panjang tersebut.
Trump menyampaikan pernyataan kontroversial itu dalam wawancara bersama Fox News yang ditayangkan pada Kamis (22/1/2026). Dalam wawancara tersebut, ia menyebut bahwa pasukan NATO, termasuk tentara Inggris, tidak berada di garis depan pertempuran di Afghanistan.
Pernyataan Trump Dinilai Abaikan Fakta Sejarah
Dalam wawancaranya, Trump menyatakan bahwa negara-negara NATO hanya mengirim pasukan ke Afghanistan dalam posisi yang relatif aman dan jauh dari garis depan. Ia bahkan menegaskan kembali klaim lamanya bahwa NATO tidak akan membantu AS jika diminta.
Padahal, fakta sejarah mencatat bahwa setelah serangan teror 11 September 2001, Inggris menjadi salah satu sekutu terdepan yang mendukung operasi militer Amerika Serikat di Afghanistan. Inggris ikut bergabung dalam misi tersebut setelah NATO mengaktifkan Pasal 5, yang menandai pertama kalinya aliansi itu menjalankan klausul pertahanan kolektif.
Reaksi Keras Pemerintah dan Parlemen Inggris
Komentar Trump langsung menuai kecaman dari berbagai pejabat Inggris. Menteri Kesehatan Stephen Kinnock menyebut pernyataan tersebut sangat mengecewakan dan menyimpang dari kenyataan di lapangan.
Pemerintah Siap Menyampaikan Protes Diplomatik
Kinnock menyatakan bahwa Perdana Menteri Keir Starmer kemungkinan besar akan membahas masalah ini secara langsung dengan Trump. Menurutnya, Inggris sangat menghormati pengorbanan angkatan bersenjatanya, dan pernyataan yang meremehkan peran mereka tidak dapat dibiarkan begitu saja.
Parlemen: Komentar Trump Adalah Penghinaan
Sementara itu, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Inggris, Emily Thornberry, menyebut pernyataan Trump sebagai penghinaan serius terhadap keluarga 457 tentara Inggris yang gugur di Afghanistan. Ia menegaskan bahwa sebagian besar korban tersebut tewas dalam pertempuran langsung melawan musuh.
Pengorbanan Sekutu NATO Tak Terbantahkan
Selain Inggris, negara-negara NATO lain seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Denmark, dan sekutu non-NATO juga kehilangan ribuan personel dalam misi Afghanistan. Data resmi menunjukkan lebih dari 2.400 tentara AS turut gugur dalam konflik tersebut.
Pernyataan Trump dinilai berpotensi memperlebar jarak diplomatik antara Amerika Serikat dan sekutu lamanya di Eropa. Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, komentar ini justru menambah tekanan terhadap soliditas NATO.
Kemarahan Inggris mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap narasi yang dianggap menghapus pengorbanan nyata para prajurit di medan perang. Hubungan transatlantik pun kembali diuji oleh kata-kata seorang pemimpin dunia.









