8 Cara Budidaya Cabe Rawit Agar Berbuah Lebat

Posted on

Budidaya Cabe Rawit – Budidaya cabai rawit tidak memiliki risiko lebih besar daripada budidaya cabai besar karena cabai rawit lebih tahan dari serangan hama. Dengan demikian kemungkinan panen optimal bahkan lebih besar. Sebenarnya ada banyak jenis cabai rawit yang ditanam di Indonesia. Namun, varietas yang paling dikenal adalah cabe rawit hijau dan cabe rawit putih.

Budidaya-Cabe-Rawit
Budidaya Cabe Rawit

Ada banyak cara untuk membudidayakan cabai rawit, misalnya dengan pot tanah, polybag, hidroponik atau cara menanam secara organik. Pelajari teknik penanaman yang berbeda dan pilih yang paling cocok dengan lingkungan Anda.

Cara Budidaya Cabe Rawit

Syarat Tumbuh

Cabe rawit dapat tumbuh di mana saja dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Namun, cabai rawit lebih optimal bila ditanam di dataran pada ketinggian 0-500 meter di atas permukaan laut. Menanam di atas 1000 meter di atas permukaan laut mengurangi produktivitas. Tanaman cabai rawit membutuhkan sinar matahari penuh atau setidaknya 8 jam / hari. PH ideal untuk menanam cabai rawit adalah 6,5 hingga 7.

Tanah untuk menanam cabai rawit harus steril. Yaitu tanah yang belum pernah ditanami cabai atau setidaknya belum ditanami cabai setidaknya selama 6 bulan. Cabe rawit juga tidak cocok untuk ditanam di lahan yang berdekatan dengan lahan cabai yang ditanam terlebih dahulu.

Persiapan Lahan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan tanah dari rumput atau gulma dan sisa-sisa tanaman sebelumnya. Kemudian lakukan penggemburan tanah. Buatlah bedengan dengan lebar 90-100 cm, tinggi dan panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi tanah. Pembuatan Bedengan harus menghindari genangan air di tengah hujan. Jarak antara bedengan antara 60 – 70 cm.

Langkah selanjutnya adalah menabur pupuk dasar. Pupuk dasar untuk cabai rawit adalah pupuk kandang / kompos, TSP, ZA dan KCL. Pupuk dasar ditaburkan 10-15 hari sebelum disemai. Taburkan pupuk dolomit ketika pH tanah di bawah 6,5. Cabai rawit dapat ditanam dengan mulsa plastik atau tanpa mulsa plastik. Jarak 70 x 60 cm atau 80 x 60 cm. Untuk memupuk dasar lebih dekat, baca

Persiapan Bibit Dan Penyemaian

Benih cabe rawit yang dapat ditanam dengan berbagai cara, bisa berupa cabai lokal atau hibrida. Untuk benih cabai lokal buatan sendiri, pilih cabai dari pohon yang sehat. Gunakan cabai yang matang sempurna, yaitu buah merah penuh antara 90-100%. Cabai yang baik adalah buah dari panen ke-4 sampai ke-6.

Penyemaian dapat dilakukan dengan dua cara, menggunakan polybag atau tebar semai. Benih yang baru diproduksi dapat disemai secara langsung. Sementara benih yang sudah agak lama direndam dengan menggunakan air hangat dan ZPT sebelum disemai. Bisa juga direndam dengan air bawang. Bawang merah mengandung ZPT alami yang merangsang akar dan mempercepat perkecambahan. Benih cabai dapat ditanam pada usia 25-30 hari setelah penyemaian.

Proses Penanaman

Bibit cabai ditanam ke lahan pada usia 25-30 hari setelah disemai. Penanaman harus dilakukan pada sore hari. Pilih benih cabai sehat dengan karakteristik memiliki vigor yang kuat dan daunnya berwarna hijau segar. Setelah penanaman, segera siram agar tanaman tidak layu. Pada musim hujan gunakan jarak 80 x 60 cm, sedangkan pada musim kemarau jaraknya 70 x 60 cm. Di musim hujan, jaraknya jangan terlalu sempit, sehingga lingkungannya tidak terlalu lembab. Di lingkungan yang lembab penyakit cendawan dapay berkembang dengan cepat.

Pemasangan Ajir

Ajir atau tiang penyangga diperlukan untuk menopang tanaman. Ajir harus dipasang sebelum benih ditanam atau segera setelah penanaman selesai. Kemudian tanaman cabai diikat dengan tali. Ajir bisa menggunakan kayu atau bambu. Ajir ditancapkan pada jarak sekitar 5 cm dari batang tanaman. Jika tanaman besar, ajir harus dipasang dalam posisi miring untuk membuat sudut 30 atau 45 derajat agar tidak merusak akar tanaman.

Pemeliharaan dan Perawatan

Lakukan Penyulaman ketika tanaman mati atau terinfeksi penyakit. Penyulaman berlangsung setidaknya sampai tanaman berumur 2 minggu. Bersihkan rumput dan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman agar tidak mengganggu tanaman. Pembersihan gulma juga berguna untuk meminimalkan serangan hama dan penyakit. Gulma jika dibiarkan tanpa pengawasan bisa menjadi tempat persembunyian atau berbagai hama dan penyakit.

Penyiraman dilakukan ketika dibutuhkan, frekuensi penyiraman disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Saat musim kemarau atau musim kemarau penyiraman dilakuakn sesering mungkin agar tanaman tidak mati karena kekeringan. Penyiraman dapat dilakukan dengan membocorkan atau merendam bedengan.

Pemupukan susulan pertama dapat dilakukan terlebih dahulu jika tanaman cabai 2 minggu setelah tanam. Pemupukan pertama dengan pupuk NPK hingga 3 kg / 1000 tanaman. Larutkan pupuk dengan 200 liter air dan biarkan mengalir di tanaman cabai hingga 200 ml per tanaman. Pemupukan kemudian dilakukan setiap 1 minggu dengan dosis tambahan secara berkala. Penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Pupuk yang umum digunakan adalah NPK, KCL, TSP, ZA, KNO3 atau MKP.

Penyemprotan pupuk daun juga diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi mikro. Penyemprotan dengan pupuk daun dilakukan setiap 1 minggu. Agar lebih praktis, penyemprotan dapat dilakukan bersama dengan insektisida atau fungisida.

Pengendalian Hama & Penyakit

Hama dan penyakit tanaman cabai rawit sama dengan cabai merah atau keriting. Hama dan penyakit ini termasuk;

Hama cabe rawit: Ulat grayak, ulat tanah, jangkrik, tungau, thrip, kutu daun, siput dan lalat buah.
Penyakit tanaman cabe rawit: Layu Fusarium, layu bakteri, Anthracnose / Patek, virus Gemini, bercak daun, busuk batang dan busuk buah.
Pengendaliannya bisa dilakukan dengan menyemprotkan insektisida dan fungisida.

Cara Panen dan Masa Panen

Cabai rawit dapat dipanen pada usia 80-90 HST (hari setelah tanam). Cabai rawit dapat dipanen dengan dua cara, yaitu sebagai cabe rawit hijau dan cabe rawit merah. Cabai rawit dipanen dengan menyesuaikan permintaan pasar. Di Sumatera, orang umumnya menyukai cabai hijau dan tidak cabai merah. Meskipun ada perbedaan di Pulau Jawa, cabai rawit dapat dipanen hijau atau sebagai cabai rawit merah.

Panen harus dilakukan pada pagi hari setelah embun mengering. Cabai rawit dapat dipanen seminggu sekali. Jika budidaya dilakukan dengan benar, cabai rawit dapat menghasilkan hingga 2 hingga 3 tahun untuk cabe rawit lokal. Sementara spesies cabai Cayenne hibrida, usia produktifnya relatif lebih pendek dan terletak antara 8 dan 12 bulan.

Demikianlah pembahasan tentang budidaya cabe rawit semoga dapat bermanfaat untuk anda.

Baca Juga Artikel Lainnya

Related posts: